Minggu, 23 September 2018

#3 | MENGENAL BANGSA ARAB JAHILIYAH (Bagian #2)



Pada tulisan yang lalu kita telah bahas bagaimana kondisi masyarakat jahiliyah dari sisi agama mereka. Pada tulisan kali ini kita akan coba mengupas bagaimana kehidupan kemasyarakatan mereka.


PERNIKAHAN DI MASA JAHILIYAH

Di masa jahiliyah dikenal ada beberapa jenis pernikahan, di dalam shahihnya, Al Imam Bukhari membawakan sebuah riwayat dari 'Aisyah radhiallâhu 'anha bahwa beliau mengatakan,
Pernikahan pada masa Jahiliyah terdiri dari empat macam:

1. Pernikahan seperti pernikahan orang sekarang yaitu seorang laki-laki mendatangi laki-laki yang lain lalu melamar wanita yang di bawah perwaliannya atau anak perempuannya. Sang wali punkemudian menentukan maharnya dan menikahkannya.

2. Seorang laki-laki berkata kepada isterinya manakala ia sudah suci dari haidnya, "Pergilah kepada si fulan dan berhubungan suami-istrilah kamu dengannya." Setelah terjadi hubungan seks dengan pria tadi, maka sang suami pun mengasingkan istrinya dan tidak disentuh sama sekali sampai tampak tanda kehamilannya dari laki-laki tersebut. Dan ketika sudah kelihatan tanda kehamilannya, sang suami bisa menggauli istri tersebut kalau dia menginginkan. Ini dia lalukan karena ingin mendapatkan anak yang cerdas. Pernikahan semacam ini disebut sebagai nikah al istibdha'.

3. Sekelompok orang dalam jumlah yang kurang dari sepuluh berkumpul, kemudian mendatangi seorang wanita dan masing-masing menggaulinya. Jika wanita ini hamil dan melahirkan, kemudian setelah berlalu beberapa malam dari melahirkan, wanita ini akan mengirim utusan kepada semua laki-laki tadi lalu si wanita ini berkata kepada mereka, "Kalian telah mengetahui apa yang telah kalian lakukan dan aku sekarang telah melahirkan, dan dia ini adalah anakmu wahai si fulan!". Dia menyebutkan nama laki-laki yang dia senangi dari mereka, maka anaknya dinasabkan kepadanya.

4. Sekumpulan laki-laki mendatangi seorang wanita sedangkan si wanita ini tidak menolak sedikit pun siapa pun yang mendatanginya. Mereka ini adalah para pelacur. Ddepan pintu-pintu rumah mereka ditancapkan bendera yang menjadi simbol mereka dan siapa pun yang menghendaki mereka maka dia bisa masuk. Jika dia hamil dan melahirkan, laki-laki yang pernah mendatanginya tersebut berkumpul lalu mengundang seorang pelacak nasab (al-Qaafah adalah pelacak nasab dengan melihat ciri-ciri pada si anak, -pent) kemudian si ahli ini menentukan bapak si anak tersebut kepada siapa yang mereka cocokkan ada kemiripannya dengan si anak. Lantas sang bapak pun memanggil si anak sebagai anaknya. Dalam hal ini, si laki-laki yang ditunjuk ini tidak boleh menyangkal. Maka ketika Allah mengutus Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam, beliau hapuskan semua pernikahan kaum Jahiliyah tersebut kecuali pernikahan yang ada saat ini.[1]

Kaum Jahiliyah dikenal pula dengan istri-istrinya yang banyak. Poligami ketika itu dilakukan tanpa batasan tertentu. Mereka menikahi wanita-wanita yang bersaudara, mereka juga menikahi isteri bapak-bapak mereka bila telah ditalaq atau karena ditinggal mati oleh bapak mereka.
Allah berfirman,
وَلَا تَنْكِحُوا مَا نَكَحَ آبَاؤُكُمْ مِنَ النِّسَاءِ إِلَّا مَا قَدْ سَلَفَ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَمَقْتًا وَسَاءَ سَبِيلًا
"Dan janganlah kamu kawini wanita-wanita yang telah dikawini oleh ayahmu, terkecuali pada masa yang telah lampau. Sesungguhnya perbuatan itu amat keji dan dibenci Allah dan seburuk-buruk jalan (yang ditempuh). ". (An Nisa’: 22) [2]


HAMPIR MERATANYA PERZINAHAN

Perbuatan zina ketika itu begitu menyebar. Hampir semuanya berzina kecuali hanya orang-orang tertentu yang memiliki jiwa mulia dan menjaga dirinya dari lumpur kehinaan. [3]


TRADISI MABUK-MABUKAN

Mereka juga memiliki tradisi mabuk-mabukan dengan minum khamr. Dahulu ketika mereka dalam keadaan mabuk, mereka akan menjadi orang yang dermawan, memberikan harta-harta mereka tanpa berpikir terlebih dahulu. Mereka pun berbangga-bangga dengan hal ini. Di dalam bait syair mereka disebutkan,
ولقد شربت من المدامة بعدما ... ركد الهواجر بالمشوف المعلم
بزجاجة صفراء ذات أسرة ... فرنت بأزهر بالشمال مفدم
فإذا شربت فإنني مستهلك ... مالي، وعرضي وافر لم يكلم
وإذا صحوت فما أقصر عن ندى ... وكما علمت شمائلي وتكرمي
"Sungguh telah kuteguk khamar setelah kulalui siang yang demikian terik dengan dinar dalam genggamandengan gelas kaca kuning yang bergaris kutuangkan dari kendi khamr yang bersaringSaat aku mabuk, sungguh kuhabiskan hartaku untuk kudermakan, namun begitu, kehormatanku masihlah adaKala aku tersadarkan, tak lepas dariku kedermawananku sebagaimana yang telah kau ketahui wahai kekasih, tentang kedermawanan dan kemuliaanku.” [4]


PERJUDIAN

Bangsa Arab Jahiliyyah juga suka berjudi. Namun sisi baik dari judi ini, mereka biasanya mengambil keuntungan dari judi itu untuk menafkahi keluarga dan juga memberi makan fakir miskin. Oleh karena itu, anda lihat Al-Qur'an tidak mengingkari manfa'at dari khamar dan judi, hanya saja dosa keduanya lebih besar daripada manfaatnya. Allah berfirman,
يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ قُلْ فِيهِمَا إِثْمٌ كَبِيرٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَإِثْمُهُمَا أَكْبَرُ مِنْ نَفْعِهِمَا 
Mereka bertanya kepadamu tentang khamr dan judi. Katakanlah, "Pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar daripada manfaatnya." (Al Baqarah: 219) [5]


MENGUBURKAN ANAK WANITA

Di antara kebiasaan mereka adalah membunuh anak-anak mereka. Allah berfirman,
وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ مِنْ إِمْلَاقٍ نَحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَإِيَّاهُمْ
"…dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan. Kami akan memberi rizki kepadamu dan kepada mereka..".(Al An'am: 151)

Ketika anak-anak yang terlahir itu adalah perempuan maka mereka akan sangat merasa malu. Bahkan sebagiannya menguburkan bayi-bayi perempuan itu dalam keadaan hidup-hidup. Allah berfirman,
وَإِذَا بُشِّرَ أَحَدُهُمْ بِالْأُنْثَى ظَلَّ وَجْهُهُ مُسْوَدًّا وَهُوَ كَظِيمٌ (58) يَتَوَارَى مِنَ الْقَوْمِ مِنْ سُوءِ مَا بُشِّرَ بِهِ أَيُمْسِكُهُ عَلَى هُونٍ أَمْ يَدُسُّهُ فِي التُّرَابِ أَلَا سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ (59)
"Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah.(58) Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)? Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu. (59)". (An Nahl: 58-59). [6]


SUKA BERPECAH BELAH

Dahulu masyarakat jahiliyah sanngat bangga dengan perpecahan. Mereka menganggap perpecahan ini merupakan ekspresi dari kebebasan mereka, sebaliknya persatuan dan ketundukan kepada para pemimpin merupakan sebuah kerendahan. Perpecahan mereka tidak hanya dalam urusan agama, namun juga dalam urusan-urusan dunia mereka
Di dalam Al Qur’an Allah berfirman tentang mereka,
وَلَا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ (31) مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ (32

Janganlah kalian menjadi seperti orang-orang musyrik, yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka pun menjadi bergolongan-golongan. Setiap golongan bangga dengan apa yang ada di sisi mereka.” (Ar Rum 31-32).[7]


SUKA BERPERANG

Bangsa Arab terkenal pula suka berperang. Akan tetapi mereka menghormati bulan-bulan tertentu yang disebut sebagai Asyhuril Hurum (Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab).

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ 
Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kalian menganiaya diri kalian dalam bulan yang empat itu. (At Taubah, 36) [8]

Walaupun bangsa Jahiliyah memiliki berbagai macam tradisi yang buruk, akan tetapi pada diri mereka pun terdapat banyak akhlaq yang mulia. Di antara akhlaq tersebut adalah:


KEDERMAWANAN

Mereka dahulu dikenal dengan sifat yang dermawan, membantu dan melayani orang-orang yang membutuhkan. Salah satu bentuk kedermawanan mereka disebutkan dalam kisah berhala Latta.
Di dalam tafsirnya, Ibnu Katsir menjelaskan tentang asal muasal berhala Latta. Kata beliau,
Al latta adalah patung putih yang berukir. Ia ditempatkan dalam sebuah rumah di Tha’if yang memiliki kelambu-kelambu dan juru kunci. Sekelilingnya terdapat halaman. Latta di agungkan oleh penduduk Tha’if”
Kemudian Ibnu Katsir menjelaskan hakikat Latta dan membawakan hadits,

عن ابن عباس رضي الله عنهما ، في قوله : { اللات والعزى كان اللات رجلا يلت سويق الحاج
Dari Ibnu ‘Abbas Radhiallahu’anhuma, beliau menafsirkan makna ayat اللات والعزى bahwa Latta adalah seorang lelaki yang membuat adonan roti untuk para jama’ah haji” (HR. Al Bukhari)

Ternyata Latta dulunya adalah seorang yang dermawan yang membuatkan roti kepada jama’ah haji dengan cuma-cuma. Ketika ia meninggal, orang-orang mengenangnya dan mendatangi kuburannya, lalu beribadah di sana. Lama-kelamaan ia diagungkan dan menjadi berhala yang disembah selain Allah. [9]


MENEPATI JANJI

Bangsa Arab juga dikenal menepati janjinya. Untuk menetapi janjinya ini mereka bersedia untuk berkorban harta dan jiwa. Hal ini terekam dalam kisah Yaum Dzi Qaar sebagaimana yang disebutkan oleh Al Imam At Thabari dalam Tarikh beliau,
Dahulu ada seseorang Arab yang bernama Nu’man bin Mundzir. Suatu saat, Kisra sang raja Persia murka kepadanya. Ia takut akan dibunuh oleh Kisra. Ia pun menitipkan senjata, harta dan keluarganya kepada salah seorang pembesar Arab yang bernama Hani’ bin Mas’ud Asy Syaibani, lalu pergi menghadap Kisra. Kisra pun kemudian memenjarakan dan membunuhnya.
Kisra mengutus orang kepada Hani’ untuk meminta titipan Nu’man. Hani’ menolaknya. Kisra kemudian mengirim pasukan untuk memerangi Hani’. Hani’ pun lalu mengumpulkan kaumnya dari Bani Bakr lalu berperang dengan gagah berani untuk menepati janjinya melindungi apa yang telah dititipkan oleh mendiang Nu’man bin Mundzir. [10]
Ini menunjukkan karakter bangsa Arab (dulu) yang sangat menepati janji. Berbeda dengan keadaan sebagian mereka di masa kita sekarang.


MENJAGA HARGA DIRI

Bangsa Arab pantang menerima pelecehan. Mereka tidak akan tinggal diam bila mendengar pelecehan terhadap diri atau kaum mereka. Bila terjadi pelecehan maka mereka tak segan-segan menghunus pedang dan mengacungkan tombak, dan mengobarkan peperangan yang panjang. Mereka juga tidak peduli bila nyawa mereka menjadi taruhannya demi mempertahankan sifat tersebut. [11]


MENGANGGAP RENDAH DUSTA

Disebutkan di dalam shahih Al Bukhari, disebutkan bahwa suatu saat Abu Sufyan yang ketika itu masih musyrik pernah diintrogasi oleh Heraklius, Kaisar Romawi. Kaisar bertanya kepadanya tentang keadaan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan dakwahnya. Sebenarnya Abu Sufyan bisa saja berdusta, akan tetapi dia tidak mau berdusta karena memang bangsa Arab malu dan menganggap rendah kedustaan.
Dia mengatakan,
فَوَاللَّهِ لَوْلاَ الحَيَاءُ مِنْ أَنْ يَأْثِرُوا عَلَيَّ كَذِبًا لَكَذَبْتُ عَنْهُ
“Demi Allah, kalau bukan karena malu dicap sebagai pendusta, pasti aku akan berbohong saat ia bertanya tentang nabi itu.” (HR. Al Bukhari)

Demikian keadaan akhlak bangsa Arab di masa Jahiliyah. Sebagiannya memang tidak terpuji, namun sebagian yang lain merupakan akhlak-akhlak yang baik. 
Wallahu a’lam bisshawab.


Referensi:
[1] Ibrahim Al Ali, Shahih Shirah An Nabawiyah, hlm. 35-36.
[2] Shafiyyurrahman Al Mubarakfuri, Ar Rahiqul Makhtum hal 35.
[3] Ibid.
[4] Husain bin Ahmad Az Zauzani, Syarh Mu’allaqat As Saba’, hlm. 256.
[5] Ibnu Katsir, Tafsir Al Qur’anil Azhim surat Al Baqarah 219.
[6] Muhammad bin Ibrahim At Tuwaijiri, As Sirah An Nabawiyyah, hlm. 20.
[7] Shalih Alu Syaikh, Syarh Masaail Jahiliyah, hlm. 15
[8] Ibnu Katsir, Tafsir Al Qur’anil Azhim surat At Taubah ayat 36.
[9] Ibid., Tafsir surat An Najm ayat 19.
[10] Ath Thabari, Tarikh Ath Thabari, 2/208.

[11] Shafiyyurrahman Al Mubarakfuri, Ar Rahiqul Makhtum hal 38.




------------------------------------------------

Ditulis Oleh Ustadz Wira Bachrun Al Bankawy
PROFIL PENULIS | LIHAT TULISAN LAIN



Selasa, 17 Juli 2018

#2 | Mengenal Bangsa Arab Jahiliyah (Bagian Pertama)


Para pembaca yang budiman, mengenal bangsa Arab cukup penting bagi kita yang ingin memperdalam sirah nabawiyah, terutama bagaimana keadaan mereka di masa jahiliyah. Dengan mengetahui keburukan yang terjadi di masa jahiliyah, kelak kita akan dapat menganalisa bagaimana peran dakwah beliau dalam mengubah itu.

Menurut bahasa, 'Arab artinya padang pasir, tanah gundul dan gersang yang tiada air dan tanamannya. Keadaan alam jazirah Arab adalah gurun yang kering dan tandus. Sebutan dengan istilah ini sudah diberikan sejak dahulu kala kepada jazirah Arab, sebagaimana sebutan yang diberikan kepada suatu kaum yang disesuaikan dengan daerah tertentu, lalu mereka menjadikannya sebagai tempat tinggal. [1]

 Jazirah Arab dibatasi oleh:
  • Bagian barat: Laut Merah dan gurun Sinai
  • Bagian timur: Teluk Arab dan sebagian besar negara Iraq bagian selatan
  • Bagian selatan: Laut Arab yang bersambung dengan Samudera Hindia
  • Bagian utara: Negeri Syam dan sebagian kecil dari negara Iraq,

Adapun di dalamnya, Jazirah Arab hanya dikelilingi gurun dan pasir di segala sudutnya. Kondisi seperti inilah yang membuat jazirah Arab seperti benteng pertahanan yang kokoh, yang tidak memperkenankan bangsa asing untuk menjajah, mencaplok dan menguasai penghuninya.

Oleh karena itu kita bisa melihat penduduk jazirah Arab yang hidup merdeka dan bebas dalam segala urusan semenjak zaman dahulu. Sekalipun begitu mereka tetap hidup berdampingan dengan dua kerajaan super power saat itu, yaitu Romawi dan Persia yang serangannya tak mungkin bisa dihadang andaikan tidak ada benteng pertahanan alami yang kuat seperti itu.

Jazirah Arab yang mencakup area seluas satu juta sampai satu juta tigaratus mil persegi ini memiliki letak yang sangat strategis sejak zaman dahulu. Sebelah barat Laut merupakan pintu masuk ke benua Afrika, sebelah timur laut merupakan kunci untuk masuk ke benua Eropa dan sebelah timur merupakan pintu masuk bagi bangsa ajam (bangsa non-Arab), timur tengah dan timur dekat, terus membentang ke India dan Cina. Setiap benua mempertemukan lautnya dengan Jazirah Arab dan setiap kapal laut yang berlayar tentu akan bersandar di pelabuhan-pelabuhan Arab. Oleh karena posisi yang strategis inilah jazirah Arab menjadi pusat pertukaran barang dagangan, pertukaran peradaban, agama dan kebudayaan. [2]


KAUM-KAUM ARAB

Para ahli sejarah membagi kaum-kaum Arab menjadi tiga bagian, yaitu:
Arab Ba’idah, yaitu kaum Arab terdahulu yang tidak mungkin sejarahnya bisa dilacak secara rinci dan lengkap, seperti kaum 'Ad, Tsamud, Thasm, Judais, 'Imlaq dan lain-lainnya.
Arab ‘Aaribah, yaitu kaum-kaum Arab yang berasal dari keturunan Ya'rib bin Yasyjub bin Qahthan, atau disebut pula Arab Qahthaniyah. Arab ‘Aaribah ini berasal dari negeri Yaman.
Arab Musta'ribah, yaitu kaum-kaum Arab yang berasal dari keturunan nabi Isma'il ‘alaihissalaam, yang disebut pula Arab 'Adnaniyah. [3]


AGAMA BANGSA ARAB

Sebelum diutusnya Rasulullah, kebanyakan bangsa Arab masih mengikuti dakwah Nabi Ismail 'alaihissalam dan menganut agama yang dibawanya. Beliau meneruskan dakwah ayahnya, Ibrahim 'alaihissalam, yaitu menyembah Allah dan mentauhidkan-Nya. Untuk beberapa lama mereka akhirnya mulai lupa banyak hal tentang apa yang pernah diajarkan kepada mereka. Sekalipun begitu, tauhid dan beberapa syiar agama Ibrahim masih tersisa pada mereka.

Sampai kemudian dari kalangan bangsa Arab ada seseorang yang bernama ‘Amr bin Luhai, pemimpin Bani Khuza'ah. Dia adalah seorang yang suka bersedekah dan juga  bersemangat mengurusi masalah agama. Suatu saat ‘Amr bin Luhai mengadakan perjalanan ke Syam. Di sana dia melihat penduduk Syam yang menyembah berhala dan menganggap hal itu sebagai sesuatu yang baik serta benar. Sebab menurutnya, Syam adalah tempat para rasul dan kitab. Maka dia pulang sambil membawa berhala yang bernama Hubal dan meletakkannya di dalam Ka'bah. Setelah itu, ‘Amr bin Luhai pun mengajak penduduk Makkah untuk menjadikan sekutu bagi Allah. Orang-orang Hijaz pun banyak yang mengikuti penduduk Makkah karena mereka dianggap sebagai pengawas Ka'bah dan penduduk tanah suci.

Selain Hubal, berhala lain yang mereka sembah adalah Manat, yang ditempatkan di Musyallal di tepi laut Merah dekat Qudaid. Kemudian mereka membuat Lata di Thaif dan Uzza di Wadi Nakhlah. Ketiga berhala tersebut merupakan berhala mereka yang paling agung. Setelah itu kemusyrikan semakin menyebar dan merebak pula berhala-berhala di setiap penjuru jaziarah Arab. [4]


BAGAIMANA BENTUK IBADAH MEREKA KEPADA PARA BERHALA?

Di antara bentuk peribadahan mereka kepada berhala antara lain:
-         Mereka berkumpul di sekitar berhala, kemudian meminta pertolongan tatkala menghadapi kesulitan, beristighotsah dan berdoa agar berhala-berhala itu memenuhi kebutuhan mereka, dengan penuh keyakinan bahwa berhala-berhala itu bisa memberikan syafa'at di sisi Allah dan mewujudkan apa yang mereka kehendaki.

-         Mereka menunaikan haji dan thawaf mengelilingi berhala, merunduk dan sujud di hadapannya.
-         Mereka mendekatkan diri kepada berhala mereka dengan berbagai bentuk ibadah; mereka menyembelih dan berkorban untuk berhala tersebut dan dengan menyebut nama berhala.
-         Mereka juga mengkhususkan sebagian dari makanan dan minuman yang mereka pilih untuk disajikan kepada berhala, dan juga mengkhususkan bagian tertentu dari hasil panen dan binatang ternak mereka.

-         Mereka menetapkan adanya bahirah, as saaibah, al washilah dan al ham. [5]
Said bin Al Musayyab rahimahullah menyebutkan makna keempat ritual ini:
Al bahirah ialah unta betina yang air susunya tidak boleh diperah oleh seorang pun karena dikhususkan hanya untuk berhala mereka saja.

As saibah ialah ternak unta yang dibiarkan bebas demi berhala-berhala mereka, dan tidak boleh ada seorang pun yang mempekerjakan­nya serta memuatinya dengan sesuatu pun.
Al wasilah ialah unta betina yang dilahirkan oleh induknya sebagai anak pertama, kemudian anak keduanya betina pula. Mereka menjadikannya sebagai unta saibah, dibiarkan bebas untuk berhala-berhala mereka, jika antara anak yang pertama dan yang kedua tidak diselingi dengan jenis jantan.

Sedangkan al ham ialah unta pejantan yang berhasil menghamili beberapa ekor unta betina dalam jumlah yang tertentu. Apabila telah mencapai bilangan yang ditargetkan, maka mereka membiarkannya hidup bebas dan membebaskannya dari semua pekerjaan, tidak lagi dibebani sesuatu pun.

Berkenaan dengan hal tersebut, Allah menurunkan ayat,
ما جَعَلَ اللَّهُ مِنْ بَحِيرَةٍ وَلا سائِبَةٍ، وَلا وَصِيلَةٍ، وَلا حامٍ، وَلكِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ، وَأَكْثَرُهُمْ لا يَعْقِلُونَ
"Allah sekali-kali tidak pernah mensyari'atkan adanya bahirah, sa'ibah, washilah dan hami. Akan tetapi orang-orang kafir membuat-buat kedustaan terhadap Allah, dan kebanyakan mereka tidak mengerti". (Al Maidah: 103). [6]


Bangsa Arab berbuat seperti itu terhadap berhala-berhalanya, dengan disertai keyakinan bahwa hal itu bisa mendekatkan mereka kepada Allah, menjadikan mereka sebagai perantara antara mereka dan Allah, serta meminta syafa'at kepada mereka, sebagaimana yang dinyatakan dalam Al-Qur'an,
مَا نَعْبُدُهُمْ إِلاّ لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى
"Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya". (Az Zumar:3).
وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لا يَضُرُّهُمْ وَلا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَؤُلاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ
"Dan, mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) manfaat, dan mereka berkata: 'mereka itu adalah pemberi syafa'at kepada kami disisi Allah". (Yunus: 18). [7]



MENGUNDI NASIB

Selain menyembah berhala, orang-orang Arab juga mengundi nasib dengan sesuatu yang disebut al azlam atau anak panah yang tidak ada bulunya. Azlam merupakan tiga buah anak panah, pada salah satunya bertuliskan kata 'lakukanlah', pada yang kedua bertuliskan 'jangan kamu lakukan', sedangkan pada yang ketiganya tidak terdapat tulisan apa pun.
Jika telah diundi, lalu keluarlah panah yang bertuliskan kata perintah, maka orang yang bersangkutan mengerjakannya; atau jika yang keluar kata larangan, maka ia meninggalkannya. Jika yang keluar adalah anak panah yang kosong, maka ia mengulangi undiannya lagi.[8]


PERCAYA KEPADA PERAMAL DAN DUKUN

Bangsa Arab juga menyakini kebenaran berita-berita dari para kahin (peramal), arraf (dukun), ahli nujum (ahli ilmu perbintangan).

Kaahin atau peramal adalah orang yang suka memberikan informasi tentang hal-hal yang akan terjadi di masa depan, mengaku-aku dirinya mengetahui rahasia-rahasia. Di antara para peramal ini, ada yang mendakwa dirinya punya bawahan dari kalangan jin yang memberikan informasi kepadanya.
Adapun Arraf (dukun) adalah orang yang bisa mengetahui lokasi barang yang dicuri, atau barang yang hilang. Arraf juga mengklaim bisa mengetahui posisi orang yang tersesat.

Sedangkan ahli nujum (astrolog) adalah orang yang mengamati keadaan bintang dan benda-benda langit lainnya, lalu dia menghitung perjalanan dan waktu peredarannya, agar dengan begitu dia bisa mengetahui berbagai keadaan di dunia dan peristiwa-peristiwa yang bakal terjadi di masa depan.[9]


ATH THIYARAH

Di kalangan mereka juga beredar kepercayaan ath thiyarah yaitu merasa bernasib sial atau meramal nasib buruk karena melihat burung, binatang lainnya atau apa saja.

Pada mulanya mereka mendatangi seekor burung atau kijang, lalu mengusirnya. Bila burung atau kijang itu mengambil arah kanan, maka mereka jadi bepergian ke tempat yang hendak dituju dan hal itu dianggap sebagai pertanda baik. Jika burung atau kijang itu mengambil arah kiri, maka mereka tidak berani bepergian dan mereka meramal hal itu sebagai tanda kesialan. Mereka juga menganggaosial jika di tengah jalan bertemu burung atau hewan tertentu.[10]


SISA-SISA AJARAN NABI IBRAHIM ALAIHISSALAAM

Meski mengadopsi berbagai pemahaman dan ritual yang menyimpang, akan tetapi ajaran Nabi Ibrahim masih tersisa pada mereka dan belum ditinggalkan sama sekali, seperti pengagungan terhadap baitullah (ka'bah), thawaf, haji, umrah, wukuf di 'Arafah dan lain-lain.

Akan tetapi mereka menambahkan hal-hal  yang baru dalam ibadah haji seperti membuat aturan bagi orang yang datang dari luar tanah haram bila mereka datang dan berthawaf untuk pertama kalinya maka mereka mengenakan pakaian para penduduk makkah. Apabila mereka tidak mendapatkannya, maka kaum laki-laki harus thawaf dalam keadaan telanjang. Sementara wanita juga harus menanggalkan seluruh pakaiannya kecuali pakaian rumah yang longgar, kemudian baru berthawaf dan melantunkan :
اليوم يبدو بعضه أو كله ... وما بدا منه فلا أحله
"Hari ini tampak sebagian atau seluruhnyaApa yang nampak itu tiadalah ia perkenankan" [11]
Demikianlah gambaran umum tentang keadaan bangsa Arab Jaahiliyah sebelum diutusnya Rasulullah shallalahu aliahi wasallam.


(Bersambung)

CATATAN KAKI:
[1] Shafiyurrahman Al Mubarakfuri, Ar Rahiqul Makhtum, hlm. 9
[2] Ibid., hlm. 8-9.
[3] Ibid., hlm. 10.
[4] Ibid., hlm. 27.
[5] Ibid., hlm. 28.
[6] Lihat Tafsir Ibnu Katsir terhadap surat Al Maidah ayat 103.
[7] Shafiyurrahman Al Mubarakfuri, Ar Rahiqul Makhtum, hlm. 29.
[8] Tafsir Ibnu Katsir terhadap surat Al Maidah ayat 3.
[9] Shafiyurrahman Al Mubarakfuri, Ar Rahiqul Makhtum, hlm. 30.
[10] Ibid.
[11] Ibid., hlm. 31.

#1 | Sirah Nabawiyah


Pembaca yang budiman, tulisan ini merupakan tulisan pertama dari rangkaian tulisan yang berkenaan dengan sirah, peri-kehidupan Nabi kita yang mulia ‘alaihis shalatu wassalam. Melalui rangkaian tulisan ini kami mencoba untuk mengetengahkan bagaimana perjalanan kehidupan beliau dari awal sampai akhirnya. Namun sebelum kita masuk menyelami kehidupan beliau yang penuh hikmah, marilah kita simak terlebih dahulu beberapa pendahuluan yang penting untuk kita pahami.


DEFINISI SIRAH NABAWIYAH

Secara bahasa sirah berarti at thariqah yang bermakna jalan. Dikatakan dalam bahasa Arab,

سار بهم سيرة حسنة

Dia berjalan di hadapan mereka dengan gaya berjalan yang baik.
Selain itu, sirah juga bermakna  al hay’ah (keadaan/kondisi), sebagaimana yang disebutkan di dalam Al Qur’an,

سَنُعِيدُهَا سِيرَتَهَا الْأُولَى

Kami akan mengembalikannya kepada keadaannya semula (Thaha: 21)[1]
Adapun definisi sirah nabawiyah, disebutkan oleh para ulama, bahwa sirah nabawiyah adalah

دراسةُ حياة النبي - صلى الله عليه وسلم - وأخبارِ أصحابه على الجملة،  وبيانُ أخلاقِه وصفاته وخصائصه ودلائل نبوتهِ، وأحوالِ عصره

“Pelajaran tentang kehidupan Nabi shallallahu alaihi wasallam dan juga pengkhabaran tentang para sahabat beliau secara global, serta penjelasan tentang akhlaq, sifat, kekhususan, tanda-tanda kenabian, serta keadaan-keadaan di masa beliau shallallahu alaihi wasallam.”[2]


KEUTAMAAN MEMPELAJARI SIRAH NABAWIYAH

Sirah nabawiyah merupakan perkara yang penting untuk dipelajari oleh setiap muslim. Bahkan hal itu merupakan bagian dari agama merupakan dan ibadah yang agung. Para ulama menyebutkan beberapa hal yang menunjukkan bahwa mempelajari sirah itu sangat penting:

1.) Nabi shallallahu alaihi wasallam adalah teladan bagi kita semua dalam segala sisi, baik itu aqidah, ibadah maupun akhlak. Allah Ta’ala berfirman:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (Al Ahzab: 31)

Dan untuk bisa meneladani petunjuk Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam tentu tidak bisa lepas dari mengetahui sejarah hidup beliau yang mulia.

2.) Sirah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjadi patokan benar atau salahnya amal perbuatan manusia. Barangsiapa yang mencocoki jalan beliau, maka itulah yang akan diterima oleh Allah Ta'ala. Sebaliknya yang menyelisihi jalan beliau maka akan tertolak. Dalam permasalahan ini Sufyan bin Uyainah mengatakan, sebagaimana yang dinukil oleh Al Khatib Al Baghdadi dalam muqaddimah Al Jami’ li Akhlaq Ar Rawi wa Adabis As Sami’:
إن رسول الله صلى الله عليه وسلم هو الميزان الأكبر ؛ فعليه تعرض الأشياء ، على خُلقه وسيرته وهديه ، فما وافقها فهو الحق ، وما خالفها فهو الباطل 
“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah timbangan utama. Maka, segala sesuatu ditimbang dengan akhlak, sirah dan petunjuk beliau. Yang sesuai, maka itulah yang benar, dan yang berlawanan dengannya, maka itulah kebatilan.

3.) Dengan mempelajari Sirah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, kita akan terbantu untuk memahami Kitabullah, karena kehidupan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam merupakan praktek nyata terhadap Al Qur`an. Dahulu ketika Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha ditanya tentang akhlak Rasulullah, maka beliau menjawab :
كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ
“Akhlak beliau adalah Al Qur’an.”

Allah subhanallahu wata’ala berfirman,

وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ
“Dan sesungguhnya engkau benar-benar berada di atas akhlak yang agung.” (Al Qalam: 4)
Dan yang dimaksud dengan akhlak di sini adalah pengamalan agama beliau, beliau telah mengerjakan petunjuk Al Qur’an secara menyeluruh dan sempurna. Beliau shallallahu alaihi wasallam telah menjalankan seluruh perintah dan menjauhi seluruh larangan yang ada di dalam Al Qur’an. Demikian juga beliau telah mempraktekkan seluruh adab dan akhlak yang disebutkan di dalamnya. Oleh karena itu, seseorang yang memahami sirah beliau niscaya akan sangat terbantu untuk memahami kitabullah.

4.) Dengan mempelajari sirah nabawiyah, seseorang akan memperkuat cintanya kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau bersabda,  
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ
“Tidaklah sempurna keimanan salah seorang di antara kalian sampai aku lebih dia cintai dari pada orangtuanya, dari pada anaknya, dan daripada seluruh manusia.” (Muttafaqun ‘alaihi)

5.) Mempelajari Sirah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam merupakan pintu menuju peningkatan penguatan iman kita. Allah subhanahu wata’ala berfirman,
أَمْ لَمْ يَعْرِفُوا رَسُولَهُمْ فَهُمْ لَهُ مُنْكِرُونَ
“Ataukah mereka tidak mengenal rasul mereka, karena itu mereka memungkirinya?” (Al Mu’minun: 69)
Apabila seseorang mengenal Rasulullah shallallah ‘alaihi wasallam, mengenal bagaimana petunjuk serta adab dan akhlak beliau yang mulia, maka ini akan menumbuhkan keimanan bagi orang yang belum beriman, dan akan semakin menambah keimanan orang yang telah beriman.
Betapa banyak orang yang masuk Islam ketika mengetahui keindahan adab dan akhlak Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Al Imam Ahmad meriwayatkan dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu,
وَلَقَدْ جَاءهُ رَجُلٌ ، فَأعْطَاهُ غَنَماً بَيْنَ جَبَلَيْنِ ، فَرجَعَ إِلَى قَوْمِهِ ، فَقَالَ : يَا قَوْمِ ، أسْلِمُوا فإِنَّ مُحَمَّداً يُعطِي عَطَاءَ مَن لا يَخْشَى الفَقْر ، وَإنْ كَانَ الرَّجُلُ لَيُسْلِمُ مَا يُريدُ إِلاَّ الدُّنْيَا ، فَمَا يَلْبَثُ إِلاَّ يَسِيراً حَتَّى يَكُونَ الإسْلاَمُ أحَبَّ إِلَيْهِ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا عَلَيْهَا
Seorang lelaki datang kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam. Maka Nabi pun memberikannya kambing yang berjumlah satu lembah. Orang tersebut kemudian mendatangi kaumnya lalu berkata, “Wahai kaumku, masuk Islamlah kalian! Sesungguhnya Muhammad telah memberikan suatu pemberian, dia tidaklah khawatir akan miskin”.
Meskipun awalnya orang tersebut datang kepada Rasulullah hanya untuk mendapatkan dunia, namun setelah itu, Islam lebih dicintai daripada dunia dan seisinya.”

6.) Mempelajari Sirah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membantu memudahkan memahami keseluruhan ajaran Islam. Baik dari sisi aqidah, ibadah dan akhlak. Karena kehidupan beliau –sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya – adalah praktek terhadap ajaran agama Islam secara totalitas. 
Beliau telah mendakwahkannya dengan upaya yang sungguh-sungguh untuk menegakkan akidah yang merupakan pondasi agama.

Maka barang siapa yang meneliti sirah beliau akan mendapatkan bahwa beliau memulai dakwah beliau dengan mengajak manusia kepada tauhid. Sekian tahun beliau menghabiskan hidup beliau untuk mengajak manusia kepada aqidah tauhid sebagaimana yang telah Allah perintahkan. 
Kemudian barulah diturunkan kewajiban-kewajiban lainnya secara berangsur-angsur.
Dengan mempelajari sirah beliau, seseorang bisa mengetahui bagaimana akidah yang benar serta memahami tahapan-tahapan turunnya syariat dan bagaimana mempraktekkan agama Allah dengan benar. 

Di dalam karya beliau Mukhtashar As SirahAsy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah mengatakan,
اعرف ما قصه أهل العلم من أخبار النبي صلى الله عليه وسلم وقومه وما جرى له معهم في مكة وما جرى له في المدينة ، واعرف ما قص العلماء عن أصحابه وأحوالهم وأعمالهم. لعلك أن تعرف الإسلام والكفر ؛ فإن الإسلام اليوم غريب وأكثر الناس لا يميز بينه وبين الكفر ، وذلك هو الهلاك الذي لا يرجى معه فلاح
“Pelajarilah apa yang telah dikisahkan oleh para ulama tentang Nabi shallallahu alaihi wasallam serta kaumnya, dan apa yang terjadi di antara beliau dan mereka baik ketika di Makkah maupun di Madinah. Dan pelajari pula apa yang dikisahkan oleh para ulama tentang para sahabat beliaukeadaan dan praktek amalan mereka yang dengannya semoga Anda bisa membedakan antara Islam dan kekufuran. Karena sesungguhnya Islam begitu terasing di zaman ini dan banyak sekali orang yang tidak bisa membedakan antara Islam dan kekufuran. Maka ini merupakan sebuah bencana yang tidak akan membawa kepada keselamatan.”
7.) Di dalam Sirah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam seseorang bisa melihat bagaimana metodologi yang tepat dalam berdakwah di atas bashirah (ilmu). Para dai yang sejati adalah orang-orang yang mempelajari dan memahami serta mempraktekkan petunjuk, langkah dan sejarah hidup beliau. Allah Ta’ala berfirman,
قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي
“Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata” (Yusuf: 108)
Praktek dakwah yang tepat telah tercakup di dalam sirah nabawiyah; bagaimana beliau memulai dakwah, bagaimana adab dan akhlak dalam berdakwah, kelemah-lembutan beliau dalam berdakwah, dan perkara penting lainnya yang menjadi bekal para juru dakwah ilallah.

8.      Sirah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri sudah merupakan bukti kenabian dan tanda kebenaran nubuwwah dan kerasulan beliau. Mempelajari sirah adalah perkara terbesar yang membantu seseorang untuk membenarkan dan mengimani kerasulan beliau shallallahu alaihi wasallam.

9.      Mempelajari Sirah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam merupakan pintu yang agung dan diberkahi untuk memperoleh kebahagian. Kenapa? Karena kebahagiaan seseorang tergantung pada sejauh mana ia mengetahui petunjuk-petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Sebab tidak ada jalan menuju kebahagiaan bagi seorang hamba di dunia dan di akhirat kecuali melalui petunjuk para rasul.
Al Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,
ومن هاهنا تعلم اضطرار العباد فوقَ كل ضرورة إلى معرفة الرسول وما جاء به، وتصديقه فيما أخبر به، وطاعته فيما أمر، فإنه لا سبيل إلى السعادة والفلاح لا في الدنيا ولا في الآخرة إلا على أيدي الرسل
Dan dari sini Anda akan menyadari bahwa mengenal Rasulullah dan ajaran yang beliau bawa, membenarkan serta mentaati beliau merupakan prioritas paling tinggi. Karena sesungguhnya tiada jalan kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat melainkan melalui bimbingan para rasul.
Lalu beliau juga mengatakan,
وإذا كانت سعادةُ العبد في الدارين معلقةً بهدي النبي صلى الله عليه وسلم ، فيجِب على كلَ من نصح نفسه وأحب نجاتها وسعادتها أن يعرف من هديه وسيرته وشأنه مَا يَخْرُجُ به عن الجاهلين به ويدخل به في عِداد أتباعه وشِيعته وحِزبه ، والناس في هذا بين مستقِل ، ومستكثِر ، ومحروم ، والفضلُ بيد اللّه يُؤتيه من يشاء ، واللّه ذو الفضل العظيم
“Apabila kebahagiaan seorang hamba di dunia dan di akhirat itu bergantung pada petunjuka Nabi shallallahu alaihi wasallam, maka wajib bagi orang yang berjiwa tulus dan menginginkan keselamatan serta kebahagiaan untuk mengetahui petunjuk dan sirah (peri-kehidupan) beliau. Melepaskan dirinya dari ketidaktahuannya tentang diri Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wasallam, serta menggabungkan dirinya dengan para pengikut dan golongan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Dan manusia dalam perkara ini ada yang meremehkan, ada yang menganggapnya penting, bahkan ada pula yang terhalang dari mengetahui petunjuk Nabi dan sirahnya. Dan keutamaan itu ada di tangan Allah, Allah-lah yang memiliki keutamaan yang agung.”
10.    Di dalam sirah nabawiyah terdapat pelajaran dan nasihat-nasihat yang agung bagi manusia. Allah subhanahu wata’ala berfirman,
لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِأُولِي الْأَلْبَابِ مَا كَانَ حَدِيثًا يُفْتَرَى وَلَكِنْ تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ كُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ
“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Qur'an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” (Yusuf: 111)[3]
Wallahu a’lam bisshawab.
(Bersambung)

Oleh: Wira Mandiri Bachrun Al Bankawy




[1]Shohihul Atsar wa Jamiilul Ibr min Siirati Khairil Basyar, Prof. DR. Muhammad bin Shamil As Sulamiy, dkk. Maktabah Rawa’iu Al Mamlakah, Jeddah 1431 H – 2010 M, hal 12.
[2]. Ibid.
 
[3]. Demikianlah beberapa faidah dari mempelajari sirah nabawiyah yang disebutkan oleh para ulama. Bagi siapa yang ingin menginginkan tambahan penjelasan silakan merujuk kepada makalah yang ditulis oleh Asy Syaikh Prof. Dr. Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al Badr yang berjudul Min Fawaid Dirasat Sirah An Nabawiyah, di laman http://al-badr.net/muqolat/3071 dan juga di pendahuluan kitab As Sirah An Nabawiyah baina Al Ma’rifah wal Wajib fi Dhau’I Al Qur’an wa As Sunnah, karya Asy Syaikh Muhammad bin Ibrahim At Tuwaijiri.




------------------------------------------------

Ditulis Oleh Ustadz Wira Bachrun Al Bankawy
PROFIL PENULIS | LIHAT TULISAN LAIN