#49 | MENGAPA MEREKA BISA BEGITU TEGAR?

Share

Para pembaca yang budiman, kita telah paparkan demikian banyak ujian yang dihadapi oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan para sahabat beliau. Makian, pemboikotan, siksaan dan beragam gangguan yang mungkin kalau kita alami, sulit bagi kita untuk menghadapinya. Lantas apakah sebab para sahabat radhiallahu anhum bisa tegar di tengah musibah yang melanda bertubi-tubi?

Asy Syaikh Shafiyurrahman Al Mubarakfuri berusaha mengungkap sebab-sebab ini. Kata beliau, di antara sebab-sebab ketegaran mereka adalah:


1. Keimanan kepada Allah

Faktor yang paling utama adalah keimanan kepada Allah ta’ala semata dan juga ma’rifatullah dengan sebenar-benarnya. Keimanan yang kokoh apabila telah merasuk ke dalam sanubari maka akan dapat mengangkat gunung dan tidak akan goyang.

Orang yang memiliki keimanan dan keyakinan seperti ini akan memandang kesulitan duniawi sebesar, sebanyak dan sekompleks apapun bagaikan lumut-lumut yang diapungkan oleh air bah. Air bah yang dihalangi oleh lumut-lumut tadi, apakah dia akan tertahan dari menghancurkan bendungan-bendungan yang kuat serta benteng-benteng yang kokoh? Orang yang kondisinya seperti ini, tidak mempedulikan rintangan apapun lagi karena manisnya iman telah mereka rasakan. Allah berfirman,

فَأَمَّا الزَّبَدُ فَيَذْهَبُ جُفَاءً وَأَمَّا مَا يَنْفَعُ النَّاسَ فَيَمْكُثُ فِي الأرْضِ 
“Adapun buih itu akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya. Adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi”. (Ar Ra’d: 17)


2. Kepimpinan dan Keteladanan Rasulullah 

Kesempurnaan yang dianugerahkan kepada sosok Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak pernah dianugerahkan kepada siapapun. Beliau menempati posisi puncak dalam derajat sosial, keluhuran budi, kebaikan dan keutamaan. Demikian pula dari sisi kesucian diri, amanah, kejujuran dan semua jalan-jalan kebaikan, maka tidak ada tandingan bagi beliau. Jangankan oleh para pencinta dan sahabat karib beliau, bahkan musuh-musuh beliau pun tidak meragukan lagi hal itu. Ungkapan yang pernah terlontarkan dari mulut beliau pastilah membuat mereka langsung meyakini kebenaran yang beliau bawa.

Adapun di mata para sahabat beliau, maka kedudukan Rasulullah di sisi mereka ibarat ruh dan jiwa mereka. Oleh karena itulah, sebagai rasa cinta mereka mereka tidak gentar menghadapi ujian yang dihadapkan kepada mereka untuk membela agama serta kehormatan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.


3. Menyadari Besarnya Tanggung Jawab

Para sahabat menyadari secara penuh akan besarnya tanggung jawab yang dipikulkan kepada pundak mereka sebagai pengusung dakwah. Tanggung jawab ini tidak dapat dielakkan dan dilepaskan begitu saja. Apabila mereka lari dari tanggung jawab ini, maka akibat buruknya jauh lebih besar dan berbahaya daripada rasa sakit yang mereka dapatkan dari penindasan tersebut. Hilangnya agama Allah dan jauhnya manusia darinya nanti tak sebanding dengan kesulitan-kesulitan yang mereka hadapi.


4. Iman kepada Akhirat

Faktor ini pula merupakan sebab yang menguatkan tumbuhnya rasa tanggung jawab tersebut. Mereka memiliki keyakinan yang kuat bahwa mereka akan dibangkitkan kelak menghadap Allah, Rabb penguasa semesta alam. Mereka sadar bahwa  amal mereka akan dihisab dengan begitu terperinci. Jadi, hanya ada dua pilihan; ke surga yang penuh dengan kesenangan atau ke neraka jahim yang penuh dengan azab yang abadi.

Oleh karena itu para sahabat pun menjalani kehidupan mereka di antara khouf dan roja’, rasa takut dan pengharapan. Mereka mengharapkan rahmat Rabb mereka dan takut akan siksa-Nya. Sebagaimana yang Allah firmankan,

وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ
“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut”. (Al Mukminun: 60).
Mereka mengetahui bahwa dunia dengan kesengsaraan dan kesenangan yang ada di dalamnya tidak akan bisa menyamai sepasang sayap nyamuk bila dibandingkan dengan kehidupan di akhirat. Pengetahuan mereka yang kuat tentang hal inilah yang meringankan mereka di dalam menghadapi kepayahan, kesulitan dan kepahitan yang ada di dunia ini.


5. Turunnya Ayat-Ayat Al Quran yang Menguatkan Mereka

Di tengah-tengah kesulitan yang mereka alami, turunlah surat-surat dan ayat-ayat Allah yang memberikan hujjah dan bukti atas kebenaran risalah Islam dan prinsip-prinsipnya. Turunnya ayat-ayat ini menguatkan hati kaum Muslimin untuk bersabar dan pantang menyerah.
Allah subhanahu wata’ala berfirman,

{الم (1) أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ (2) وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ (3)
Alif Lam Mim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, "Kami telah beriman," sedangkan mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. (Al Ankabut: 1-3)


6. Berita-Berita Gembira tentang Kemenangan

Di tengah-tengah penindasan yang dialami kaum mu’minin, turunlah pula beberapa ayat yang secara terang-terangan memberitakan kabar gembira, berupa kemenangan kaum mu’minin. Allah ta’ala berfirman,

{وَلَقَدْ سَبَقَتْ كَلِمَتُنَا لِعِبَادِنَا الْمُرْسَلِينَ (171) إِنَّهُمْ لَهُمُ الْمَنْصُورُونَ (172) وَإِنَّ جُنْدَنَا لَهُمُ الْغَالِبُونَ (173) فَتَوَلَّ عَنْهُمْ حَتَّى حِينٍ (174) وَأَبْصِرْهُمْ فَسَوْفَ يُبْصِرُونَ (175) أَفَبِعَذَابِنَا يَسْتَعْجِلُونَ (176) فَإِذَا نزلَ بِسَاحَتِهِمْ فَسَاءَ صَبَاحُ الْمُنْذَرِينَ (177) وَتَوَلَّ عَنْهُمْ حَتَّى حِينٍ (178) وَأَبْصِرْ فَسَوْفَ يُبْصِرُونَ (179) }
Dan sesungguhnya telah tetap janji Kami kepada hamba-hamba Kami yang menjadi rasul, (yaitu) sesungguhnya mereka itulah yang pasti mendapat pertolongan. Dan sesungguhnya tentara Kami itulah yang pasti menang. Maka berpalinglah kamu (Muhammad) dari mereka sampai suatu ketika. Dan terangkanlah kepada mereka, (akibat kekafiran mereka) maka kelak mereka akan mengetahui (nya). Maka apakah mereka meminta supaya siksa Kami disegerakan? Maka apabila siksaan itu turun di halaman mereka, maka amat buruklah pagi hari yang dialami oleh orang-orang yang diperingatkan itu. (As Shaffat: 171-179)

Allah juga berfirman tentang orang-orang yang terusir dari negeri mereka,

{وَالَّذِينَ هَاجَرُوا فِي اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مَا ظُلِمُوا لَنُبَوِّئَنَّهُمْ فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَلأجْرُ الآخِرَةِ أَكْبَرُ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ (41) الَّذِينَ صَبَرُوا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ (42) }
Dan orang-orang yang berhijrah karena Allah sesudah mereka dianiaya, pasti Kami akan memberikan tempat yang bagus kepada mereka di dunia. Dan sesungguhnya pahala di akhirat adalah lebih besar, kalau mereka mengetahui, (yaitu) orang-orang yang sabar dan hanya kepada Rabb mereka saja mereka bertawakal. (An Nahl: 41)
Allah juga mengabarkan tentang balasan bagi orang yang menentang para Rasul,

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِرُسُلِهِمْ لَنُخْرِجَنَّكُمْ مِنْ أَرْضِنَا أَوْ لَتَعُودُنَّ فِي مِلَّتِنَا فَأَوْحَى إِلَيْهِمْ رَبُّهُمْ لَنُهْلِكَنَّ الظَّالِمِينَ (13) وَلَنُسْكِنَنَّكُمُ الأرْضَ مِنْ بَعْدِهِمْ ذَلِكَ لِمَنْ خَافَ مَقَامِي وَخَافَ وَعِيدِ (14)
Orang-orang kafir berkata kepada rasul-rasul mereka, "Kami sungguh-sungguh akan mengusir kalian dari negeri kami atau kalian kembali kepada agama kami.” Maka Rabb mereka mewahyukan kepada mereka, "Kami pasti akan membinasakan orang-orang yang zalim itu, dan Kami pasti akan menempatkan kalian di negeri-negeri itu sesudah mereka. Yang demikian itu (adalah untuk) orang-orang yang takut (akan menghadap) ke hadirat-Ku dan yang takut kepada ancaman-Ku.” (Ibrahim: 13-14)

Inilah faktor-faktor yang menyebabkan para sahabat bisa bersabar di tengah besarnya musibah yang mereka dapatkan di dalam dakwah. Semoga kita semua bisa meneladani mereka semua. Amin.


Wallahu ta’ala a’lam.

**********

SUMBER:
Shafiyyurrahman Al Mubarakfuri, Ar Rahiqul Makhtum, (Riyadh: Dar Ibnil Jauzi, 1435 H), hlm. 79.