#30 | BERDAKWAH KEPADA JAMA’AH HAJI

Share

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melakukan dakwah kepada Islam secara terang-terangan di tempat-tempat berkumpulnya kaum musyrikin. Beliau membacakan Kitabullah kepada mereka dan menyampaikan ajakan yang selalu disampaikan oleh para Rasul terdahulu kepada kaum mereka,

يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ
“Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Sesembahan (yang haq) bagimu selain-Nya. ”
Beliau juga mulai menunjukkan beribadah beliau kepada Allah subhanahu wata’ala di hadapan mata kepala mereka sendiri. Beliau melakukan shalat di halaman ka'bah pada siang hari secara terang-terangan dan disaksikan oleh banyak orang. [1]

Dakwah yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam semakin hari semakin diterima, sehingga semakin banyak pula orang yang masuk ke dalam agama Allah satu persatu. Namun kemudian antara mereka yang sudah memeluk Islam dan keluarga mereka yang belum memeluk Islam terjadilah saling membenci dan saling menjauhi. Melihat hal ini, kaum Quraisy merasa gerah dan pemandangan semacam ini amat menyakitkan mereka.[2]


MELOBI ABU THALIB

Untuk mencegah Rasulullah dari dakwahnya ini, maka para pemuka Quraisy mendatangi Abu Thalib dan menyatakan, “Sungguh keponakanmu telah mengganggu kami di tempat-tempat berkumpul dan di masjid-masjid kami. Laranglah dia dari melakukannya lagi!”

Abu Thalib akhirnya kemudian mengutus Aqil putranya untuk memanggil Rasulullah. Dia kemudian menyampaikan keinginannya agar Rasulullah menghentikan dakwahnya. Abu Thalib mengatakan,
“Sungguh keluarga pamanmu ini telah melaporkan bahwa kamu menyakiti mereka di tempat pertemuan dan masjid mereka. Berhentilah dari mengganggu mereka...”.

Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendongakkan pandangannya ke langit sambil berkata, “Apakah kalian melihat matahari itu?”

Mereka menjawab, “Ya”.

Beliau berkata lagi, “Tidaklah aku lebih mampu meninggalkan hal itu dari kalian, sebagaimana kalian tidak akan mampu untuk memetik cahaya dari matahari.”

Maka Abu Thalib pun menyatakan, “Demi Allah! keponakanku tidak pernah berdusta, maka kembalilah kalian ke rumah kalian dengan tenang!”[3]


MENJELANG MUSIM HAJI

Kaum musyrikin Quraisy semakin gelisah. Sebentar lagi musim haji akan segera tiba. Orang Arab dari berbagai penjuru akan berduyun-duyun datang ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji. Oleh karena itu, mereka melihat perlunya merangkai satu pernyataan yang harus mereka sepakati tentang Muhammad dan dakwahnya untuk nantinya mereka sampaikan kepada para jamaah haji yang akan segera tiba di negeri mereka.

Mereka ingin merancang satu konsensus terhadap Muhammad yang bisa mempengaruhi jamaah haji agar menolak dan tidak menaruh simpatik sama sekali kepada dakwah yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Maka berkumpullah mereka di rumah Al-Walid bin Al-Mughirah untuk membuat konsensus tentang apa yang akan mereka sampaikan kepada bangsa Arab.

Al-Walid mengatakan kepada mereka, “Bersepakatlah tentang Muhammad ini, janganlah berselisih sehingga membuat sebagian kalian mendustakan pendapat sebagian yang lain dan sebagian lagi menolak pendapat sebagian yang lain.”

Mereka berkata kepadanya, “Katakan kepada kami pendapatmu yang akan kami jadikan acuan!"

Al-Walid membalas, “Justru kalian yang harus mengemukakan pendapat kalian biar aku dengar dulu."

Mereka berkata, “Mari kita sepakati bahwa dia adalah seorang dukun!”

Al-Walid menjawab, “Tidak! Demi Allah dia bukanlah seorang dukun. Kita telah melihat bagaimana ciri para dukun sedangkan yang dikatakannya bukanlah mantera-mantera yang biasa diucapkan oleh para dukun.”

Mereka berkata lagi, “Mari kita sepakati bahwa dia adalah seorang yang gila!”

Dia menjawab, “Tidak! Demi Allah! dia bukan seorang yang gila. Kita telah mengetahui bagaimana orang gila. Apa yang dia katakan bukanlah ucapan orang yang gila.”

Mereka lalu berkata lagi, “Kalau begitu kita katakan saja bahwa dia adalah seorang penyair.”

Al-Walid merespon, “Dia bukan seorang penyair. Kita telah mengetahui semua bentuk syair; rajaz, hazaj, qaridhah, maqbudhah dan mabsuthah. Sedangkan yang dikatakannya bukanlah syair.”
Mereka berkata lagi, “Kalau begitu katakan bahwa dia adalah tukang sihir".

Dia menjawab, “Dia bukanlah seorang tukang sihir. Kita telah melihat para tukang sihir dan jenis-jenis sihir mereka sedangkan yang dikatakannya bukanlah mantera yang dihembusan ataupun ikatan-ikatan sihir.”

Mereka kemudian berkata, “Kalau begitu, apa yang harus kita katakan?".

Al-Walid lalu mengatakan, “Demi Allah! sesungguhnya ucapan yang dikatakannya itu amatlah manis dan mengandung sihir. Akarnya ibarat tandan anggur dan cabangnya ibarat pohon yang rindang. Tidaklah kalian merangkai sesuatupun sepertinya melainkan akan diketahui kebatilannya.
Sesungguhnya, pendapat yang lebih dekat mengenai dirinya adalah dengan mengatakan bahwa adalah dia seorang tukang sihir yang mengarang suatu ucapan berupa sihir yang mampu memisahkan antara seseorang dengan bapaknya, saudaranya dan isterinya. Mereka semua menjadi terpisah lantaran hal itu.” [4]
Usaha mereka ini diceritakan oleh Allah subhanahu wata’ala melalui firman-Nya,

انْظُرْ كَيْفَ ضَرَبُوا لَكَ الْأَمْثالَ فَضَلُّوا فَلا يَسْتَطِيعُونَ سَبِيلًا
Perhatikanlah, bagaimana mereka membuat perbandingan-perbandingan tentang kamu, lalu sesallah mereka, mereka tidak sanggup (mendapatkan) jalan (untuk menentang kerasulanmu). (Al-Furqan: 9) dan juga (Al-Isra: 48)[5]
Sebagian riwayat menyebutkan bahwa tatkala Al-Walid menolak semua pendapat yang mereka kemukakan kepadanya, pemuka Quraisy mengatakan, “Kemukakan kepada kami pendapatmu yang lepas dari kritikan!"

Lalu dia berkata kepada mereka, “Berikanlah kepadaku kesempatan barang sejenak untuk memikirkan hal itu!".

Lantas Al-Walid berfikir dan menguras fikirannya hingga dia dapat menyampaikan kepada mereka pendapatnya tersebut sebagaimana yang telah dikisahkan.[6]

Tentang Al-Walid bin Al-Mughirah yang berusaha keras untuk menemukan julukan yang tepat untuk menjelekkan Rasulullah, Allah Ta'ala menurunkan firman-Nya,

إِنَّهُ فَكَّرَ وَقَدَّرَ (18) فَقُتِلَ كَيْفَ قَدَّرَ (19) ثُمَّ قُتِلَ كَيْفَ قَدَّرَ (20) ثُمَّ نَظَرَ (21) ثُمَّ عَبَسَ وَبَسَرَ (22) ثُمَّ أَدْبَرَ وَاسْتَكْبَرَ (23) فَقَالَ إِنْ هَذَا إِلَّا سِحْرٌ يُؤْثَرُ (24) إِنْ هَذَا إِلَّا قَوْلُ الْبَشَرِ (25)
"Sesungguhnya dia telah memikirkan dan menetapkan (apa yang ditetapkannya). Maka celakalah dia! Bagaimanakah dia menetapkan. Kemudian celakalah dia! Bagaimanakah dia menetapkan. Kemudian dia memikirkan. Sesudah itu dia bermasam muka dan merengut. Kemudian dia berpaling (dari kebenaran) dan menyombongkan diri, Lalu dia berkata, "(Al Qur'an) ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang-orang dahulu). Ini tidak lain hanyalah perkataan manusia." (Al Mudattsir: 18-25) [7]
Setelah majelis menyepakati keputusan tersebut, mereka mulai melaksanakannya. Mereka duduk-duduk di jalan-jalan yang dilalui orang hingga orang-orang Arab datang pada musim haji. Setiap ada orang yang lewat, mereka pun memberikan peringatkan tentang Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.

Sedangkan yang dilakukan oleh Rasululllah shallallahu 'alaihi wasallam manakala sudah datang musimnya adalah mengikuti dan membuntuti orang-orang sampai ke rumah-rumah mereka, di pasar 'Ukazh, Majinnah dan Dzul Majaz. Beliau mengajak mereka ke jalan Allah namun Abu Lahab yang selalu membuntuti di belakang beliau memotong setiap ajakan beliau shallallahu 'alaihi wasallam dengan berbalik mengatakan kepada mereka, “Jangan kalian ta'ati dia karena sesungguhnya dia adalah seorang shabi'!” [8] lagi pendusta".

Namun apa yang terjadi? Gara-gara usaha mereka ini justru orang-orang Arab dari luar Makkah banyak mengetahui perihal Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sehingga beliau pun menjadi bahan perbincangan manusia di segala penjuru jazirah Arab. [9]

Wallahu a’lam.



**********

REFERENSI
[1] Shafiyyurrahman Al Mubarakfuri, Ar Rahiqul Makhtum, (Riyadh: Dar Ibnil Jauzi, 1435 H), hlm. 97.
[2] Ibid.
[3] Ibrahim Al ‘Ali, Shahih As Sirah An Nabawiyyah, (Amman: Daarun Nafaais, 2010), hlm. 78.
[4] Shafiyyurrahman Al Mubarakfuri, Ar Rahiqul Makhtum, (Riyadh: Dar Ibnil Jauzi, 1435 H), hlm. 97.
[5] Lihat Tafsir Ibnu Katsir surat Al Muzammil ayat 16-25.
[6] Shafiyyurrahman Al Mubarakfuri, Ar Rahiqul Makhtum, (Riyadh: Dar Ibnil Jauzi, 1435 H), hlm. 97.
[7] Ibid., hlm. 98.
[8] Orang yang meninggalkan agama leluhurnya dan menganut agama lain.
[9] Shafiyyurrahman Al Mubarakfuri, Ar Rahiqul Makhtum, (Riyadh: Dar Ibnil Jauzi, 1435 H), hlm. 97.